berli rupit

berli zulkanedi (Rupit)

Mengunjungi Candi Wat Arun

Keramahan Yang Patut Ditiru, Wajib Belajar Bahasa Setiap Negara


Ada sesuatu yang menarik pada sungai Chaophraya dan candi wat arun, yang mungkin pantas kita tiru. Pedagang pada pasar disekitar candi dan sepanjang sungai itu, lihai dalam taktik berhadapan dengan pelanggan. Sopan, sabar, dan benar-benar menjadikan pembeli adalah raja namun tetap ramah membuat ngiler untuk membeli. Apalagi kemudahan dalam tawar menawar dan menerima beragam mata uang asing layaknya Money Changer.

Siapapun yang baru datang bakal difoto dan langsung dicetak dalam bentuk yang beragam dan unik sekaligus dengan harga 200 bat. Di tempat yang sama foto dicetak ke atas piring seharga 200 bat. Tapi jangan kaget jika, mendengar juru foto mengucapkan satu, dua dan tiga serta cukup. Karena, mereka memang ramah dan fasih dalam bahasa Indonesia. “Ayo geser – geser, satu, dua”itulah kalimat yang diucapkan juru foto.


Jangan sungkan untuk menawar harga foto maupun saat belanja di pasar suvenir, karena memang rata – rata dari mereka pandai dalam menggunakan bahasa Indonesia. Bukan karena kursus atau karena pedagang itu berasal dari Indonesia, tetapi karena keinginan mereka dalam menyambut pelancong. Karena tidak hanya basaha Indonesia, hampir bahasa seluruh Dunia mereka kuasai, terutama dalam kalimat tawar – menawar dagangan. “Silahkan pilih – dipilih, tawar jangan jauh – jauh lugi punya wo,” itulah potongan kalimat yang diucapkan.

Sebagian dari pedagang itu memang sengaja belajar dan mencari tahu kalimat demi kalimat tawar menawar setiap negara. Mungkin itu dijadikan jurus ampuh untuk menarik minat membeli, padahal diajak ngobrol lebih jauh dalam bahasa Indonesia, mereka akan bingung. 

Pengetahuan mereka dalam menggunakan berbagai bahasa di dunia walaupun sepotong itu, berkat dukungan penuh dari Pemerintah melalui Divisi (Instansi) khusus yang mengajarkan mempelajari bahas setiap negara. Sehingga bagi pedagang sekitar objek wisata diharuskan mempelajari bahasa sapaan setiap negara itu, dan bagi mereka yang telah mengusai wajib untuk mengajarkan kepada pedagang lainnya. Hanya pedagang yang telah menguasai berbagai bahasa yang diperbolehkan untuk menggelar dagangannya. “Orang – orang dibantu Pemerintah belajar bahasa, itu wajib punya,”ungkap Thanyarat Phatpakorn, pedagang suvenir batu dengan bahasa Indonesia yang terputus – putus. 


Thanyarat yang telah menjadi pedagang sejak enceng gondok masih menjadi masalah di Sungai Caophraya, namun baru sekitar empat tahun menguasai bahasa selain bahasa Thai. “Kita orang sudah lama punya disini (pedagang), tapi dukungan Pemerintah (belajar bahasa) baru sekitar tiga dan empat tahun ini,”tuturnya dengan mengaku sangat ingin berkunjung ke Indonesia.
Pantas saja, mereka dapat berinteraksi dengan semua pelancong dengan modal bahasa sapaan. Sebenarnya tidak banyak bahasa dipelajari, bahasa Indonesia untuk mewakili Bangsa Melayu, Bahasa Inggis untuk pelancong dari Barat dan Erofa serta bahasa Arab untuk negara ditimur tengah. 

Jadi pasar sekitar objek wisata di Thailand memang memiliki keistimewaan yang didukung penuh oleh Pemerintah. Yang sebenarnya dapat diterapkan di Indonesia termasuk Sumsel dengan pasar terapung Sungai Musi.



Tidak hanya itu, pedagang itu layaknya loket money changer, karena rupiah dan hampir seluruh mata uang didunia diterimah. Sehingga tidak harus susah mencari loket Money Changer, lembaran rupiah diterimah. Tapi yang paling penting, jangan sampai lupa menghitung supaya tetap ekonomis dan kantong tidak terkuras. Satu juta rupiah hampir sama dengan 3.500 san bat, atau tiga lembar uang seribuan saja.

Subsidi yang dimaksud yakni program Pemerintah setempat, dimana setiap pertukaran mata uang dari pedagang pada loket khusus atau bank, pedagang akan mendapatkan semacam biaya transport. Sungguh kemudahan yang luar biasa dengan dukungan penuh dari Pemerimtah, semoga saja itu dapat terjadi di Indonesia terutama Palembang dengan Sungai Musinya.(berli z)


MENYELUSURI SUNGAI CHAOPHRAYA

Tulisan Dari Bangkok, Thailand
MENYELUSURI SUNGAI CHAOPHRAYA DAN CANDI WAT ARUN


Setiap Tahun Sedot 200 Ribu Pelancong Indonesia 

Sungai Chaophraya memiliki panjang 363 kilometer dan melintasi 20 Provinsi di Thailand menjadi sangat terkenal dan salah satu objek wajib dikunjungi bagi pelancong di seluruh Dunia. Bagaimana itu terjadi? dan bagaimana potensi sungai musi yang memiliki panjang hingga dua kali lipat dari Chaophraya. Namun pelancong dari Indonesia mencapai 200 ribu orang/tahun yang melancong ke Negeri Gajah Putih itu. Berikut tulisan dari Bangkok, Thailand.

Jika sungai musi memiliki Pulau Kemaro, Kampung Kapitan serta dilengkapi legenda Kerajaan Maritim Sriwijaya. Maka sama halnya Chaophraya dengan candi Wat Arun yang berada di pinggiran seberang sungai kota Bangkok dan membela Thailand menjadi dua bagian ibu kota baru dan lama. Dengan kesadaran dan kedisiplinan yang tinggi dari masyarakatnya, kebersihan dan keindahan Chaophraya dan Wat Arun mampu menyedot hingga 200 ribu pelancong dari Indonesia setiap tahunnya. Padahal jumlah itu masih lebih sedikit dari pelancong negeri lainnya di Dunia. 

Prahu carteran yang menawari jasa dengan bayaran 500 hingga 1000 bat, anda akan menemui sebuah sungai yang ramai dan bersih dari sampah rumah tanggah maupun rerumputan air. Padahal sepuluh tahun lalu, Thailand masih dipusingkan dengan ledakan enceng gondok yang dipercaya berasal dari Indonesia dan saat ini masih menjadi pekerjaan besar Pemkot Palembang untuk Sungai Musi. Kesadaran masyarakat dan rutinitas pembersihan dengan menggunakan kapal berwarna kuning pada pagi hari, sampah dan daun khas tanaman air tidak akan dijumpai.

Wajar saja, sungai Chaophraya menjadi daya tarik tersendiri yang banyak dikunjungi pelancong dari berbagai negera di Dunia. Dengan dukungan kesadaran yang tinggi itu, objek lain yang saat ini menjadi wajib didatangi pelancong. “Orang buang sampah, kena (denda) 20 bat. Tiga kali kena diambil polis (tangkap polisi),”tutur salah seorang guide.

Setelah sesaat mengarungi, akan menjumpai sebuah Candi yang lengkap dengan pasar tradisional yang unik dan ramah. Kenapa ramah?, belanja di komplek candi Wat Arun tidak harus dengan menggunakan mata uang Thailand, Bat. Cukup dengan rupiah, dengan sedikit tawar menawar dan “Lugi punya wo,” kata orang Tionghoa. Namun bagi pelancong Indonesia yang tidak mengantongi bat tapi “ngiler” bukan kepalang dengan aduhainya beragam cindramata di kios-kios Wat Arun, jadi jugalah. Apalagi dengan mengingat entah kapan kembali ke lokasi wisata yang berada dipinggiran seberang sungai Chaophraya yang terkenal dan terpanjang di Thailand itu. Lagipula Rp25.000 untuk sepotong kaus oblong kualitas menengah bergambar lambang dan tulisan Thailand, rasanya tak membuat kita merasa “bersalah” mengeluarkan rupiah. Sebab harga itu relatif sama dengan di negeri sendiri.

Kalau berniat datang ke Wat Arun yang dirindangi pepohonan dan semerbak aroma dari jajaran pohon kemuning itu, berarti jangan segan-segan buka dompet. Wat Arun memang bukan sekadar tempat jalan-jalan atau cuci mata. Apalagi begitu mengetahui yang datang dari Indonesia para produsen tak segan-segan memberi kemudahan belanja dalam rupiah. “Jangan susah-susah, bisa pakai rupiah, tidak jauh beda dengan bath, cpek deh” kata salah seorang dara penjual perhiasan dari batu dengan senyum ramahnya.

Agaknya para pedagang di Wat Arun sudah biasa melayani pelancong dari negeri dengan ideologi Pancasila ini. Itu kelihatan dari cara mereka bicara dan menghitung mata uang Thailand ke rupiah. Benar-benar seperti di Indonesia, apalagi sangat banyak pelancong dari Indonesia yang bisa ditemui ibu kota berpenduduk mayoritas beragama Budha itu.

Buddha adalah agama negara Thailand, 90 persen penduduk menganut agama Buddha. Selama ratusan tahun ini, baik adat istiadat, sastra dan seni maupun arsitektur, erat kaitannya dengan agama Buddha. Di Thailand, anak laki-laki yang menganut agama Buddha, sampai usia tertentu harus menjadi biksu, bahkan anggota keluarga raja dan bangsawan tidak terkecuali. Berwisata di Thailand, di mana-mana tampak biksu yang mengenakan jubah kuning serta kuil-kuil yang indah dan megah. Maka, Thailand terkenal pula dengan nama “Negeri Jubah Kuning”. Agama Buddha telah menciptakan kriteria moral bagi penduduk Thailand sehingga warga di negeri itu menjunjung semangat mengalah, tenteram dan cinta perdamaian.

 


Kertalaya Diresmikan


Foto saat peresmian pengoperasian Kertalaya (kereta khusus mahasiswa) Unsri lintas Palembang - Indralaya. Tapi sekali lagi dijelaskan, bahwa penampilan foto hanya bermaksud memberikan warna, Tujuan utama penulisan blog ini tetap  pembagian tulisan yang dibuat, Trims. Bravo Sumsel, Bravo SINDO

Banjir Bendung


Biar banjir, enjoy dan tetap gayah haaa

KENDALA UTAMA MUSI III

Dep PU Tawarkan ke Jepang

PALEMBANG (SINDO) – Pembangunan Jembatan Musi III tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya, selain terkendala lahan, penyediaan dana juga menjadi kendala utama.

Demikianlah ditegaskan Direktur jalan dan jembatan Wilayah Timur Departemen PU, Khairul Taher, di Palembang, kemarin. Menurut, Khairul, ada dua kendala yang menghambat pembangunan jembatan Musi III, yang pertama penyediaan lokasi, dan dana yang menjadi kendala utama. “Sekarang Departemen juga menggandeng pihak Jepang untuk membangun itu, ini dilakukan untuk percepatan perwujudan jembatan itu,”ujarnya, di Palembang, kemarin.

Investir China, lanjut Khairul, tetap berminat, namun sebagai upaya penyediaan dana, maka siapapun yang berminat dan mampu untuk melakukan itu akan dilibatkan. “China tetap, sekarang kita tawarkan lagi pada Jepang. Nanti siapa yang paling mungkin, yah jalan (bangun),”terangnya.

Penawaran tersebut dilakukan seiring dengan melihat dan menunggu ketersediaan dana dalam APBN. Karena, dalam pembangunan jembatan pendamping jembatan Ampera tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. “Saya tidak akan menyebutkan dana, karena kembali dilakukan studi ulang. Nanti pada waktunya akan diumumkan,”katanya menjelaskan.

Bersama dengan Jembatan Musi III, Departemen PU juga memiliki tanggung jawab terhadap dua jembatan lainnya yang telah direncanakan di Indonesia. Salah satunya, jembatan Tayang di Pontianak yang telah dimulai pembangunannya. Diharapkan, meskipun masih terdapat kendala, diharapkan dalam beberapa tahun kedepan jembatan yang menghubungkan Palembang Seberang Ulu dan Ilir tersebut dapat dimulai. “Musi III Ini termasuk dalam 3 proyek jembatan nasional, namun karena kendala itu tadi. Jembatan Tayang (Pontianak) sudah dimulai,”tuturnya.

Kemudian, kendala lain yang masih menghambat dalam pembahasan jembatan Musi III yakni ketersediaan jalan. Terus terjadinya perubahan lokasi, dan belum adanya kepastian lokasi menyebabkan terus terjadinya perubahan study proyek itu. Karena, beda lokasi beda studinya,”katanya.

Pada beberapa lokasi yang disebutkan, masih memerlukan pembahasan di Dep PU. Karena, pada lokasi lama yang perna diajukan, terdapat pemukiman warga. Sementara pada lokasi yang lainnya memerlukan tambahan biaya karena terdapat perubahan bentang jembatan. “Jadi dengan tidak adanya kepastian lokasi, studi juga tidak ada kepastian. Studi itu bukan kita, tetapi dari investor itu,”pungkasnya.

Senada disampaikan, Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional III Dirjen Bina Marga, Asep Suarjat, di Palembang kemarin. Menurutnya, penentuan lokasi pasti dan pembebasan lahan yang belum dilakukan, menjadi kendala Musi III. Karena, memerlukan studi yang berulang terhadap setiap calon lokasi yang disebutkan. “Harusnya bebaskan saja, lahannya nanti diterus di pusat. Kalau lahan sudah tersedia, berarti kendala tinggal satu yakni dana,”katanya sambil menyebutkan pembebasan lahan menjadi tanggung jawab pihak Pemda (Pemprov dan Pemkot Palembang). 
(berli zulkanedi)