Petani Karet Minta Kestabilan Harga

SUMSEL - Petani karet di Sumatera Selatan mendesak pemerintah dan pihak terkait lainnya dapat membuat aturan khusus guna menstabilkan harga jual karet petani. Karena selama ini, petani selalu dihadapkan dengan fluktuatif harga yang sangat tidak menguntungkan. Terkadang harga naik hingga mencapai diatas Rp20.000 per kilogra, kemudian dalam beberapa hari kemudian akan turun jauh hingga mendekati angkat Rp10.000 per kilogram. 
Petani mengaku memahami bahwa harga karet dipengaruhi kondisi harga di pasar dunia, cuaca dan lainnya. Namun yang terjadi pada tingkat petani, kenaikan dan penurunan harga terjadi dalam waktu singkat. Dua hari naik, kemudian hari ketiga akan turun jauh. Karena itu, perhatian pemerintah dan kepedulian pihak terkait dalam hal ini sangat diharapkan para petani. (tim)

Hati - Hati Melintasi Lampu Merah Bukit dan Angkatan 66

PALEMBANG - Pengendara yang hendak melintas di perempatan lampu merah Bukit, Angkatan 66 dan Angkatan 45 sebaiknya berhati - hati. Pasalnya, kebanyakan pengendara tak mematuhi  lampu hijau ataupun merah. Lampu merah masih menyalah, namun pengendara sudah menerobos. Akibatnya, kendaraan dari arah lain yang seharusnya masih lampu hijau harus  berhenti. Seharusnya ini segera ditindak oleh aparat terkait, jangan dibiarkan. (tim)

Bekas Galian PDAM Mengangah di Jalan Perwari

PALEMBANG - Warga Sekip Bendung dan Warga yang tinggal di sekitar jalan Perwari Palembang mengeluhkan dan mempertanyakan lobang besar berukuran sekitar 2 kali 1,5 meter yang berada di pinggir jalan tersebut. Lobang tersebut bekas perbaikan atau pengerjaan instalasi PDAM Tirta Musi Palembang yang hingga kini tak kunjung di tutupi. Warga sekitar khawatir lobang yang cukup dalam tersebut akan memakan korban jika ada anak kecil yang bermain dan tenggelan di dalamnya.  Warga hanya berharap lobang tersebut segera ditutup, karena banyak pemilik kendaraan yang mencuci mobil atau motornya yang mengakibatkan jalan menjadi basa dan licin. (tim)



Aksi Penimbunan Rawa di Palembang Tak Terkendali

PALEMBANG - Banjir diperkirahkan akan lebih kerap melanda Palembang. Pasalnya, aksi penimbunan kawasan rawa - rawa terus terjadi tanpa kendali dari pemerintah setempat. Seperti yang terjadi di kawasan Kelurahan 9 Ilir, Ilir Timur 2 Palembang. Warga dengan bebasnya menimbun tanah mereka yang merupakan rawa untuk keperluan mendirikan bangunan. Hampir setiap saat terjadi penimbunan dengan dalih menghindari banjir. 
Penimbunan tanpa kendali ini dipastikan merusakan lingkungan, yang berakibat pada berkurangnya kawasan resapan air. Akibatnya, ketika hujan terjadi banjir langsung melanda banyak kawasan di Palembang. Aksi penimbunan terjadi dibanyak tempat di Palembang. Warga sebagai pemilik lahan atau pelaku penimbunan tak dapat disalahkan, karena mereka membutuhkan bangunan untuk tempat tinggal. Sementara pemerintah tak mampu merancang pembangunan kota yang memperhatikan lingkungan. 
Perkembangan pemukiman terpusat di satu kawasan tertentu, yang berkibat pada terciptanya pemukiman padat yang identik dengan kekumuhan, drainase yang buntuh dan sebagainya. (tim)

Sejumlah Jembatan Gantung di Musirawas Rusak

SUMSEL - Sejumlah jalan desa di Kecamatan Rupit, Musirawas terancam longsor ke Sungai Rupit dan Sungai Rawas. Tebing sungai sering longsor diduga karena tak ada lagi tanaman penyangga di pinggir sungai. Banyak lahan di daerah aliran sungai telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian atau dibuatkan bangunan oleh warga. akibatnya, disejumlah titik rawan longsir, seperti di Desa Maur tepatnya depan SD negeri 1 desa tersebut.

Bronjong penagan tebing yang dibuat oleh pemerintah setempat tidak mampu menahan gerusan arus sungai. Apalagi, di banyak tempat, proyek penahan tebing tersebut sarat penyimpangan. Bahkan, beberapa pihak telah dijadikan tersangka dalam kasus dugaan penyimpangan proyek tersebut. Diantaranya Dinas PU Pengairan Prov Sumsel dalam proyek bronjong di Kecamatan Rupit. (tim)