berli zulkanedi (Maur)

Ngelamun


Ane Lagi Ngelamun, bukan manyun heee

TARUHAN MARAK MENJELANG PENCOBLOSAN 
Nilai Taruhan Mencapai Miliaran Rupiah

Ternyata tak hanya sepak bola yang dijadikan ajang taruhan atau judi. Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 4 september 2008. Tipisnya selisih perhitungan poling yang dilakukan berbagai lembaga menjadikan Pilgub menjadi ajang pertaruhan antar masyarakat sebagai pendukung kedua kandidat yang bertarung.

Pada empat hari menjelang pencoblosan, bursa pertaruhan antar pendukung semakin menggila. Jika sebelumnya ada awal kampanye, penggemar taruhan hanya mempertaruhkan uang dan barang tidak lebih dari Rp5 juta. Maka lainnya halnya menjelang pencoblosan yang dilakukan pada bulan suci ramadan ini.

Tidak tanggung – tanggung bahkan terdapat salah satu masyarakat yang merelahkan kendaraan mobil mewah dan rumah untuk dijadikan taruhan dengan uang sebesar Rp5 juta rupiah. Bervariasi memang, ada yang menjagokan SOHE (Syahrial Oesman – Helmy Yahya) dan juga yang merelahkan harta bendahnya dengan menjagokan ALDY (Alex Noerdin - Eddy Yusuf).

Seorang tauke karet (Pemilik perkunan dan pengumpul karet) asal Musirawas yang menetap di Palembang Salim Mat Bol, 37. Pemilik beberapa toko elektronik dikawasan pasar 16 Ilir Palembang ini mengaku, ikut – ikutan dengan rekannya yang melakukan taruhan. Menutnya, peta kekuatan yang sama, dengan calon yang hanya dua seperti menarik minat untuk taruhan. “Saya tidak mendukung atau menjagokan siapun, kawan datang ngajak taruhan mobil Corollah Altisnya dengan uang Rp5 juta. Yah saya terima saja, dan kami sepakat,”tuturnya. 
 
Variasi pasangan yang dijagokan, juga diikuti dengan nilai taruhan yang dipasang. Mulai dari uang tunai hingga kendaran bermotor dan bahkan mobil mewah yang bernilai ratusan juta Rupah. Tidak hanya itu, bahkan satu orang gambling (Penjudi) berani bertaruh dengan lebih dari satu orang lawan. 

Selain itu, dibeberapa tempat terdapat juga modus taruhan dengan sistem bandar. Dimana masing – masing pihak yang hendak bertaruh mendaftarkan diri dan menyerahkan sejumlah taruhan kepada seorang bandar yang ditunjuk. Nilai taruhan yang diberikan atau dibayar bervariasi. Tentunya sang bandar mendapatkan komisi dengan besaran persen tertentu dari nilai taruhan yang dipasang. 

Mungkin sedikit lebih sama dengan Togel. Karena dengan sistem bandar ini, sang bandar akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari komisi yang diterima, walaupun siapapun yang menang dari kedua kandidat Gubernur yang bersaing.

Menurut Informasi yang dapat dipercaya, untuk kalangan tertentu taruhan uang mencapai ratuan sajuta rupiah. Seperti yang dilakukan para pengusaha keturunan dan tauke yang ada di Palembang dan Sumsel pada umumnya. 

Seperti hasil penelusuran SINDO dilapanga, banyak pihak yang melakukan taruhan dengan nilai yang fantastis. Menurut mereka, Pilgub menjadi ajang yang cukup baik karena kedua pasangan memiliki kekuatan yang sama. Sehingga, prediksi akhirnya berada kelihaian masing – masing pemasang taruhan. 

Pada jajak pendapat Litbang Kompas yang diterbitkan 30 Agustus 2008, kedua pasangan calon memiliki dukungan yang sama. Alex Noerdin hanya unggul 0,4 persen dari pasangan SOHE (Syahrial Oesman – Helmy Yahya). “Itukan ada sampling error lebih kurang 4,2 persen, artinya keduanya terlihat sama dan memiliki peluang untuk menang. Disini yang menjadi menarik untuk taruhan,”ujar Amran Ceng, 45, salah satu kontraktor ini.
 
Sunggu ironis memang, ditengah melaksanakan Ibadah puasa dan memilih serta mengharapkan Gubernur yang dapat memperhatikan rakyat Sumsel. Malahan Pilgub dijadikan ajang pertaruhan atau disebut judi tersebut. Ternyata taruhan tidak hanya pada ajang sepak bola, melainkan agenda demokrasipun dijadikan kesempatan. 

Satu lagi Bandar yang ditemukan mengaku, telah lebih 18 orang yang telah mendaftar dan menyerahkan taruhan baik beruap uang tunai maupun barang. “Kalau dihitung nilainya mungkin miliran, ada tiga mobil mewah sembilan sepeda motor beserta uang dan juga yang hanya uang puluhan juta,”sebutnya dengan mewanti untuk tidak diwawancarai.

Menyikapi persoalaan tersebut, Ketua MUI Prov Sumsel bidang Fatwa DR H Romli SA, MA mengatakan, apapun bentuknya yang namanya taruhan itu dilarang oleh agama. Pasalnya, hal tersebut termasuk judi atau mempertaruhkan nasib yang diharamkan dalam ajaran agama. Apalagi ajang pemilihan nantinya, jatuh pada bulan ramadan dimana bulan yang penuh rahmat dan baroka ini merupakan kesempatan untuk menjalankan ibadah dan kembali ke jalan yang benar. 

“Apapun bentunya, itu (taruhan) sudah termasuk judi. Judi itu dilarang oleh agama dan jelas. Sebab akan membawak sesorang ke kufuran,”ujarnya kepada SINDO yang dihubungi via telepon di Palembang, kemarin.

Untuk itu, MUI Sumsel mengimbau kepada masyarakat agar tidak menjadikan Pilkada 4 september nanti sebagai ajang perjudian. Namun, sebagai demokrasi didalam memilih pemimpin. “Khusus pada kedua kandidat kirahnya dapat mengutamakan Fasta Tabikul Khairat berlomba – lomba menuju kebaikan. Artinya siapapun yang menang hendaknya dapat kita dukung,”pungkasnya.***






0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tanggapi tulisan yang anda baca dan gambar yang anda lihat