Kesempatan mungkin tak muncul di lain kali
Satu lagi pepatah atau petua klasik yang muncul dalam Pilgub Sumsel 2008. Ya itu dia, dan memang benar kesempatan tak akan datang kedua kalinya. Berpayung dengan golongan besar, berpaut dengan komitmen kesepakatan serta aral yang melintang sang lawan (SOHE) menjadi balutan kesempatan tak ada duanya pada debat Kandidat Pilgub Jilid II Kamis 29 Agustus 2008.
Kedatangan sang ketua Umum partai pendukung lawan menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memaparkan mungkin kata yang tepat untuk debat kandidat jilid II (Live Metro TV). Sejak Awal aroma setting pencocokan pertanyaan dan persiapan jawaban mewarnai debat alias pemaparan, yang berdurasi 90 menit itu. Tak ada satupun pertanyaan yang katanya menggali sesuasi maknanya debat. Namun, harus dipahami, itulah keuntungan berpaut dengan golongan besar. Siapa yang menduga, pertanyaan demi pertanyaan seperti diarahkan ke program yang telah dan sering diungkapkan saat kampanye.
Kalau bertanya jargon sekolah dan berobat gratis tentu dijawab dan lancar, bagaimana jika digali lebih dalam kongkret dan mekanisme serta sasaran berobat dan pendidikan gratis itu. Memang mungkin juga tak mampu dijawab ataupun direalisasikan sang lawan (SOHE). Tapi setidaknya sportivitas dan keadilan disinggung sedikit seperti yang diucapkan pembawah acara yang lumayan cantik.
Sedikit merunut kebelakang layar, pucuk pimpinan Metro TV juga berpayung golongan besar yang bercokol di Istana dan gedung di Senayan Jakarta. Penguasa Metro TV Surya Palo salah satu petinggi Golkar yang memiliki ambisi besar dengan kemenangan Golkar, dan siapa yang tak tahu Alex Noerdin dan Eddy Yusuf dengan ambisi besarnya untuk mengalahkan Syahrial Oesman.
Memang seharusnya SOHE menghadiri debat yang disulap menjadi paparan itu. Karena walaupun sang lawan memiliki payung lebih lebar dan tak mungkin kebasahan. Tetapi sebagian masyarakat Sumsel pasti bisa melihat makna dari jalanya 90 menit di Ballroom Aston Palembang itu. Rakyat yang kepentinganya terabaikan memiliki kedewasan untuk menilai hubungan pertanyaan dan jawaban serta setting debat yang dimainkan.
Mungkin harus menjadi pemikiran seluruh rakyat Sumsel! Apakah karena jawaban yang memuaskan? atau Karena kemampaun panelis yang terbatas dan dibatasi? Sehingga setiap pertanyaan cukup dengan satu jawaban tanpa sanggahan selanjutnya. Atau karena sang calon benar seorang pelopor dan memiliki kemampuan setara kemampuan pidato konvensi calon Presiden Amerika? Semoga kita semua salah, saya dan anda semua salah.
0 komentar:
Poskan Komentar
Silahkan tanggapi tulisan yang anda baca dan gambar yang anda lihat