berli zulkanedi (Maur)

Suvenir Visit Musi Impor

Suvenir Visit Musi Impor Cari China

Kesiapan Pemkot Palembang menyambut program Visit Musi 2008 benar-benar tidak maksimal. Bahkan, untuk menggelar acara bertaraf internasional tersebut, Pemkot Palembang terkesan tidak percaya diri.Bagaimana tidak, untuk suvenir Visit Musi 2008 saja harus diimpor dari China. Padahal, kualitas suvenir impor tersebut tidak menjamin lebih baik dari hasil karya perajin lokal. Suvenir impor itu berupa plakat berbentuk persegi panjang yang bergambarkan Jembatan Ampera dengan suasana Sungai Musi yang khas.  

Kebijakan impor tersebut dinilai sejumlah kalangan sebagai tindakan gegabah dan tidak memberdayakan pengusaha kerajinan lokal yang ada. Tidak diketahui berapa nilai satu unit plakat tersebut. Namun, menurut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Kota Palembang Apriadi S Busri, jika dirupiahkan harga satu unit plakat tersebut berkisar Rp125.000. ”Pemkot Palembang berencana mengimpor plakat sebanyak 200 unit lagi, guna menambah 200 unit suvenir yang sudah diterima Pemkot Palembang sebelumnya,” ujar Apriyadi di Palembang, Selasa (4/12) kemarin. Menurut Apriyadi, nilai impor plakat tersebut tidak seberapa dan tidak mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, jika dikalkulasikan nilai impor tersebut mencapai Rp50 juta lebih, belum ditambah biaya pesan dan ongkos kirim. ”Suvenir jenis ini sengaja dipesan untuk diberikan kepada tamu istimewa pada saat Visit Musi nanti,” ujarnya.

Apriyadi menambahkan, dalam melakukan impor suvenir tersebut, Pemkot tidak menggunakan APBD Kota Palembang melainkan menggunakan anggaran pribadi Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra. Menurut dia, pemesanan suvenir dari China tersebut dilatarbelakangi ketidakmampuan perajin lokal dalam memproduksi suvenir. Menurut Apriyadi, di tingkat lokal belum ada perajin yang mampu memproduksi suvenir seindah dari China.

”Suvenir lokal tidak mengesankan khas kedaerahan. Kita sangat memerlukan sebuah suvenir yang dapat menjadi kenangan bagi orang yang menerima,” katanya. Apriyadi menjelaskan, Pemkot Palembang menginginkan sebuah suvenir yang dapat menyegarkan ingatan tamu akan Palembang ketika tamu tersebut berada di daerah asalnya. Apriyadi menyebutkan, walaupun Pemkot memesan suvenir dari China, namun suvenir lokal tetap diberdayakan. Suvenir lokal hanya digunakan untuk tamu biasa dan hanya bersifat suvenir biasa.

Menurut pantauan SINDO, suvenir impor tersebut terbuat dari batu alam yang berukuran kurang lebih 10 x 20 sentimeter. Pada plakat tersebut bergambar Jembatan Ampera dan memiliki latar suasana Sungai Musi yang difoto dari udara.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Koordinator Produksi Musi Tourism Board Gatmir Senin mengatakan, kebijakan Pemkot tersebut merupakan bukti kedangkalan wawasan para aparat di lingkungan Pemkot Palembang.

Pasalnya, jika Pemkot memiliki niat membimbing dan memberikan pendampingan kepada perajin lokal, dia yakin Palembang tidak perlu mengimpor suvenir dari China. ”Ini adalah bentuk ketidakmampuan bawahan wali kota. Jika bawahannya mampu membimbing perajin lokal dan juga mampu menjelaskan kepada wali kota mengenai keuntungan memanfaatkan perajin lokal, maka hal ini tidak akan terjadi,” katanya.

Sebenarnya, terang Gatmir, di Kota Palembang ini sangat banyak tenaga lokal yang kreatif dan mampu memproduksi suvenir khas daerah. Namun, karena keterbatasan modal sehingga keterampilan tersebut seperti tidak diberdayakan.

Pemilik Galeri dan Museum Mir Senen ini menjelaskan, tindakan Pemkot Palembang mengimpor suvenir tersebut menunjukkan ketidakpercayaan pemerintah terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimiliki perajin lokal.

”Jangan-jangan ada rasa kecemburuan dari aparat, jika menggunakan perajin lokal, maka mereka (aparat) tidak dapat menikmati anggaran untuk suvenir itu,”katanya. Lebih lanjut, Gatmir mengungkapkan, kebijakan impor suvenir dari China merupakan pemborosan. Karena ketika program Visit Musi selesai, tidak ada kelanjutan manfaat dari pengadaan suvenir itu. Sangat berbeda jika pemerintah memberdayakan perajin lokal, maka mereka akan memiliki pengetahuan baru. (berli zulkanedi)

Tong Kosong Jilid II

Kesempatan mungkin tak muncul di lain kali

Satu lagi pepatah atau petua klasik yang muncul dalam Pilgub Sumsel 2008. Ya itu dia, dan memang benar kesempatan tak akan datang kedua kalinya. Berpayung dengan golongan besar, berpaut dengan komitmen kesepakatan serta aral yang melintang sang lawan (SOHE) menjadi balutan kesempatan tak ada duanya pada debat Kandidat Pilgub Jilid II Kamis 29 Agustus 2008.   

Kedatangan sang ketua Umum partai pendukung lawan menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memaparkan mungkin kata yang tepat untuk debat kandidat jilid II (Live Metro TV). Sejak Awal aroma setting pencocokan pertanyaan dan persiapan jawaban mewarnai debat alias pemaparan, yang berdurasi 90 menit itu. Tak ada satupun pertanyaan yang katanya menggali sesuasi maknanya debat. Namun, harus dipahami, itulah keuntungan berpaut dengan golongan besar. Siapa yang menduga, pertanyaan demi pertanyaan seperti diarahkan ke program yang telah dan sering diungkapkan saat kampanye.

Kalau bertanya jargon sekolah dan berobat gratis tentu dijawab dan lancar, bagaimana jika digali lebih dalam kongkret dan mekanisme serta sasaran berobat dan pendidikan gratis itu. Memang mungkin juga tak mampu dijawab ataupun direalisasikan sang lawan (SOHE). Tapi setidaknya sportivitas dan keadilan disinggung sedikit seperti yang diucapkan pembawah acara yang lumayan cantik. 

Sedikit merunut kebelakang layar, pucuk pimpinan Metro TV juga berpayung golongan besar yang bercokol di Istana dan gedung di Senayan Jakarta. Penguasa Metro TV Surya Palo salah satu petinggi Golkar yang memiliki ambisi besar dengan kemenangan Golkar, dan siapa yang tak tahu Alex Noerdin dan Eddy Yusuf dengan ambisi besarnya untuk mengalahkan Syahrial Oesman. 

Memang seharusnya SOHE menghadiri debat yang disulap menjadi paparan itu. Karena walaupun sang lawan memiliki payung lebih lebar dan tak mungkin kebasahan. Tetapi sebagian masyarakat Sumsel pasti bisa melihat makna dari jalanya 90 menit di Ballroom Aston Palembang itu.  Rakyat yang kepentinganya terabaikan memiliki kedewasan untuk menilai hubungan pertanyaan dan jawaban serta setting debat yang dimainkan. 

Mungkin harus menjadi pemikiran seluruh rakyat Sumsel! Apakah karena jawaban yang memuaskan? atau Karena kemampaun panelis yang terbatas dan dibatasi? Sehingga setiap pertanyaan cukup dengan satu jawaban tanpa sanggahan selanjutnya. Atau karena sang calon benar seorang pelopor dan memiliki kemampuan setara kemampuan pidato konvensi calon Presiden Amerika? Semoga kita semua salah, saya dan anda semua salah.

Aufklarung

Tong Kosong Nyaring

Debat Publik Pilgub Sumsel 2008
Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Mungkin semua dari kita dan bahkan anak sekolah tingkat dasar perna mendengar dan mungkin diajarkan pepatah – pepatah yang mengandung makna bagi kehidupan. Salah satu dari pepatah tersebut yakni “Tong Kosong Nyaring Bunyinya,”

Sebaris pepata tersebut biasanya didengarkan dalam kehidupan masyarakat, dan terkadang kita sendiri mengucapkan pepata tersebut untuk menunjukkan kiasan seseorang. 

Tanpa sadar, sengaja atau tidak entahlah namanya didalam prosesi suksesi Pilgub Sumsel secara langsung kali pertama, pepata tersebut memang tak terdengar. Namun, kedua pasangan calon yang menyebut dirinya paling hebat dengan program yang selalu didengungkan sudah mendekati bahkan cocok untuk dikiaskan dengan pepata tak terguna itu.

Jargon pelopor, perluasan program, pendidikan dan sekolah gratis, pertanian, dokter keluarga, pariwisata bagaikan kicau burung. Selalu dicapkan, ditunjukkan dengan baleho, spanduk iklan dengan biaya ratusan juta rupiah dan mungkin miliaran. 

Si pulan yang biasa dikiaskan sebagai anak yang culun dan idiotpun dipastikan akan tahu, jika semua jargon itu sangat baik bagi masyarakat. Tetapi pertanyaannya, apakah Sumsel dan Musi Banyuasin sudah lebih baik dari daerah lain?. Kita tahu jawabannya, tetapi alangka baiknya ditanyakan pada rumput yang bergoyang saja. Karena apa?, karena jawabannya tidak akan ngawur dan panjang tanpa fokus seperti terlihat pada  debat. 

Sedikit tarik kebelakang saat Debat Publik Calon Wali Kota Palembang. Dari keempat pasangan calon yang membuat pemilih saat coblos sedikit bingung tak mampu menguraikan program, visi dan misi dalam uraian kata penjelasan. Padahal dari keempat pasangan itu, terdapat Incumbent, Kepala Dinas Perhubungan, Anggota DPD RI, dan Ketua DPRD. Namun, semuanya sama, sang incumben sibuk dengan keberhasilannya, sementara pesaingnya sibuk mengutarakan sektor lain yang juga sama tak pastinya.

Hanya seorang calon wakil wali kota yang mendampingi Anggota DPD RI (Asmawati) Ahmad Rizal yang mampu sedikit merangkai kata – kata menjawab pertanya panelis di depan publik. Sekali lagi, kredibilitas belum dipercaya dan belum terbukti. Hingga pada akhirnya pasangan yang diusung pemenang Pilpres 2004 (Demokrta) harus tunduk dibawah tiga pasangan lain. 

Hal yang sama juga kembali terjadi pada debat Pilgub Sumsel, pasangan penantang (mantan bupati Muba) Alex Noerdin – Eddy Yusuf bertarung dengan Incumben Syahrial Oesman dan Helmy Yahya seorang selebritis. Dilihat dari latar yang ada, mereka dipercaya mampu menyusun kalimat yang mampu mempengaruhi orang lain. Namun, yang terjadi malah saling hujat dan dendam pribadi yang ditempat paling atas. 

Pantas saja, seorang pejabat atau kepala daerah tak perna memiliki pengaruh yang besar dalam Pemerintahannya. Sehingga program kerja yang dilakukan hanyalahan program kehati – hatian. Kalau mau buat perda Studi Banding, kalau mau bahas anggaran siapkan anggaran pendamping untuk dewan. 

Apa yang terjadi pada ahkirnya, siapapun yang muncuk sebagai pemenang dari kedua calon itu tak akan menjadi kabar baik. Bukan pidato lihai yang diminta, memang bukan slogan menarik yang diharapkan. Tapi jika misi pribadi sudah dimunculkan, bukan tak mungkin Soeharto Provinsi akan muncul.

Mustahil memang, balutan otodomi daerah dan pelopor tak memiliki perbedaan dengan perdebatan panjang Supersemar dengan Bapak Pembangunan. PKI memang dituntaskan, tapi penyesalan panjang 32 tahun dan tak hadir saat sang Proklamator wafat akan terulang kembali. Smga saja tidak!...

Seorang incumbent walaupun tela melepaskan jabatannya juga tak lebih baik dari sipulan. Perjalan panjang lima tahun kebelakang hilang tanpa bekas, memang ada sedikit perubahan yang didapat. Walaupun sebenarnya dalam lima tahun itu banyak yang dapat dilakukan. Tapi setidaknya, pergantian kabinet, pembangunan fasilitas perkantoran yang membuat APBD jot – njotan tak akan terjadi.  

Mungkin sebagai penutup, pertanyaan klasik dapat menjadi pengobat kebingungan. Duluan mana munculnya antara ayam petelur dengan telur ayam, walau terkadang ayam kawin dengan bebek.

Visit Musi Yang Penuh Kebohongan

Kebohongan Publik di Tengah Visit Musi 2008

Palembang memiliki beragam produk kerajinan khas, tapi ironisnya,Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang malah mendatangkan suvenir dari luar negeri, yakni China.

Tidak tanggung-tanggung, suvenir yang akan dibagikan sebagai oleh-oleh (cenderamata) kepada tamu istimewa pada Pagelaran Visit Musi 2008 tersebut, didatangkan dari negeri China. Produsen suvenir lokal yang terus berupaya untuk mempertahankan tradisi dan kekayaan khasanah kerajinan tangan Kota Palembang, terpaksa harus gigit jari. 

Mereka harus membuang jauh angan-angan untuk membanggakan hasil karyanya kepada para wisatawan lokal dan mancanegara yang akan berkunjung ke Palembang dalam agenda wisata itu. Kebijakan impor suvenir dari China dibuat dan hal itu telah mengecewakan para pengrajin suvenir asli Palembang.

Padahal, semula para perajin suvenir Palembang sangat berharap para tamu maupun pengunjung Visit Musi 2008 dapat membawa kenang-kenangan dari daerah asal mereka berkunjung. ”Suvenir itu buah tangan yang dicari pada suatu daerah yang dikunjungi untuk dibawa pulang. Apa yang terjadi jika ada tamu dari negeri lain, katakanlah dari China,yang berkunjung ke Palembang? Apakah yang terjadi nanti? Ternyata suvenir itu malah berasal dari negara mereka.Bukan berasal dari daerah asli Palembang.Apakah itu bukan kebohongan publik,”kata Ketua DPRD KotaPalembang M Yansuri.

Sebagai kota tua, menurut sejarah, Palembang memiliki beragam kesenian dan kerajinan yang unik dan khas. Kelebihan tersebut merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat Kota Palembang.

Namun, keberkahan tersebut pupus sudah, setelah muncul kebijakan impor yang membuat perajin lokal menjadi tamu di rumah sendiri. Nilai impor suvenir mungkin tidak seberapa jika dirupiahkan. Namun, kehilangan peluang bagi perajin lokal tentu tidak akan pernah ternilai. Banyak pendapat yang muncul ketika kebijakan impor suvenir mengemuka, pro dan kontra bermunculan dari masing-masing pihak. 

Sulit menentukan kebenaran dan siapa yang salah,namun yang jelas publik dibohongi, ketika tamu menganggap suvenir itu dibuat dan berasal dari Palembang. Pemilik Galeri dan Museum Mir Senen,Ali Gatmir Senen menuturkan, impor suvenir dari China itu merupakan bentuk kedangkalan wawasan aparatur daerah. Kebijakan impor suvenir dari China merupakan pemborosan. Tentu sangat berbeda, bila pemerintah setempat memberdayakan perajin lokal,maka perajin lokal akan percaya diri dan menjadi lebih berkembang,bahkan maju. 

Palembang memiliki khasanah kerajinan tangan yang beraneka, namun malah tidak dimanfaatkan untuk mendukung agenda Visit Musi 2008.Kebijakan impor suvenir dari China membuat perajin lokal secara otomatis menjadi penonton di negerinya sendiri. ”Janganjangan, nanti ada tarian dan kesenian lain yang akan dipentaskan pada launchingVisit Musi 2008 juga diimpor. Kalau itu benar-benar dilakukan, maka agenda tersebut sama sekali tidak memberi manfaat bagi masyarakat,”ungkapnya.

Otoritas Kota Palembang berkilah, kebijakan impor hanya untuk memotivasi perajin lokal,yang seharusnya mampu membuahkan karya seperti yang diinginkan. Entah untuk motivasi atau menunjukkan ketidakberdayaan dalam membina tenaga lokal untuk menjadi terampil,berkembang,dan maju. 


Ngelamun


Ane Lagi Ngelamun, bukan manyun heee

TARUHAN MARAK MENJELANG PENCOBLOSAN 
Nilai Taruhan Mencapai Miliaran Rupiah

Ternyata tak hanya sepak bola yang dijadikan ajang taruhan atau judi. Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 4 september 2008. Tipisnya selisih perhitungan poling yang dilakukan berbagai lembaga menjadikan Pilgub menjadi ajang pertaruhan antar masyarakat sebagai pendukung kedua kandidat yang bertarung.

Pada empat hari menjelang pencoblosan, bursa pertaruhan antar pendukung semakin menggila. Jika sebelumnya ada awal kampanye, penggemar taruhan hanya mempertaruhkan uang dan barang tidak lebih dari Rp5 juta. Maka lainnya halnya menjelang pencoblosan yang dilakukan pada bulan suci ramadan ini.

Tidak tanggung – tanggung bahkan terdapat salah satu masyarakat yang merelahkan kendaraan mobil mewah dan rumah untuk dijadikan taruhan dengan uang sebesar Rp5 juta rupiah. Bervariasi memang, ada yang menjagokan SOHE (Syahrial Oesman – Helmy Yahya) dan juga yang merelahkan harta bendahnya dengan menjagokan ALDY (Alex Noerdin - Eddy Yusuf).

Seorang tauke karet (Pemilik perkunan dan pengumpul karet) asal Musirawas yang menetap di Palembang Salim Mat Bol, 37. Pemilik beberapa toko elektronik dikawasan pasar 16 Ilir Palembang ini mengaku, ikut – ikutan dengan rekannya yang melakukan taruhan. Menutnya, peta kekuatan yang sama, dengan calon yang hanya dua seperti menarik minat untuk taruhan. “Saya tidak mendukung atau menjagokan siapun, kawan datang ngajak taruhan mobil Corollah Altisnya dengan uang Rp5 juta. Yah saya terima saja, dan kami sepakat,”tuturnya. 
 
Variasi pasangan yang dijagokan, juga diikuti dengan nilai taruhan yang dipasang. Mulai dari uang tunai hingga kendaran bermotor dan bahkan mobil mewah yang bernilai ratusan juta Rupah. Tidak hanya itu, bahkan satu orang gambling (Penjudi) berani bertaruh dengan lebih dari satu orang lawan. 

Selain itu, dibeberapa tempat terdapat juga modus taruhan dengan sistem bandar. Dimana masing – masing pihak yang hendak bertaruh mendaftarkan diri dan menyerahkan sejumlah taruhan kepada seorang bandar yang ditunjuk. Nilai taruhan yang diberikan atau dibayar bervariasi. Tentunya sang bandar mendapatkan komisi dengan besaran persen tertentu dari nilai taruhan yang dipasang. 

Mungkin sedikit lebih sama dengan Togel. Karena dengan sistem bandar ini, sang bandar akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari komisi yang diterima, walaupun siapapun yang menang dari kedua kandidat Gubernur yang bersaing.

Menurut Informasi yang dapat dipercaya, untuk kalangan tertentu taruhan uang mencapai ratuan sajuta rupiah. Seperti yang dilakukan para pengusaha keturunan dan tauke yang ada di Palembang dan Sumsel pada umumnya. 

Seperti hasil penelusuran SINDO dilapanga, banyak pihak yang melakukan taruhan dengan nilai yang fantastis. Menurut mereka, Pilgub menjadi ajang yang cukup baik karena kedua pasangan memiliki kekuatan yang sama. Sehingga, prediksi akhirnya berada kelihaian masing – masing pemasang taruhan. 

Pada jajak pendapat Litbang Kompas yang diterbitkan 30 Agustus 2008, kedua pasangan calon memiliki dukungan yang sama. Alex Noerdin hanya unggul 0,4 persen dari pasangan SOHE (Syahrial Oesman – Helmy Yahya). “Itukan ada sampling error lebih kurang 4,2 persen, artinya keduanya terlihat sama dan memiliki peluang untuk menang. Disini yang menjadi menarik untuk taruhan,”ujar Amran Ceng, 45, salah satu kontraktor ini.
 
Sunggu ironis memang, ditengah melaksanakan Ibadah puasa dan memilih serta mengharapkan Gubernur yang dapat memperhatikan rakyat Sumsel. Malahan Pilgub dijadikan ajang pertaruhan atau disebut judi tersebut. Ternyata taruhan tidak hanya pada ajang sepak bola, melainkan agenda demokrasipun dijadikan kesempatan. 

Satu lagi Bandar yang ditemukan mengaku, telah lebih 18 orang yang telah mendaftar dan menyerahkan taruhan baik beruap uang tunai maupun barang. “Kalau dihitung nilainya mungkin miliran, ada tiga mobil mewah sembilan sepeda motor beserta uang dan juga yang hanya uang puluhan juta,”sebutnya dengan mewanti untuk tidak diwawancarai.

Menyikapi persoalaan tersebut, Ketua MUI Prov Sumsel bidang Fatwa DR H Romli SA, MA mengatakan, apapun bentuknya yang namanya taruhan itu dilarang oleh agama. Pasalnya, hal tersebut termasuk judi atau mempertaruhkan nasib yang diharamkan dalam ajaran agama. Apalagi ajang pemilihan nantinya, jatuh pada bulan ramadan dimana bulan yang penuh rahmat dan baroka ini merupakan kesempatan untuk menjalankan ibadah dan kembali ke jalan yang benar. 

“Apapun bentunya, itu (taruhan) sudah termasuk judi. Judi itu dilarang oleh agama dan jelas. Sebab akan membawak sesorang ke kufuran,”ujarnya kepada SINDO yang dihubungi via telepon di Palembang, kemarin.

Untuk itu, MUI Sumsel mengimbau kepada masyarakat agar tidak menjadikan Pilkada 4 september nanti sebagai ajang perjudian. Namun, sebagai demokrasi didalam memilih pemimpin. “Khusus pada kedua kandidat kirahnya dapat mengutamakan Fasta Tabikul Khairat berlomba – lomba menuju kebaikan. Artinya siapapun yang menang hendaknya dapat kita dukung,”pungkasnya.***






Ane Lagi Ngelamu ni, bukan manyun

Bro


Abis Nulis Berita enaknya ngumpul 2

All Personil


Abis nulis berita enaknya ngumpul 1 

Diplomasi


Gaya Kite yang lagi berdiplomasi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Angkatan Pertama


Kru Redaksi SINDI Sumsel A Pertama

Tapol


TAPOL = Tahanan Politik Yang kalah judi

Serudukan gile


Ada yang tadedeh, ada yang manyun dan ada juga melotot!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Gila - gilaaaaan

berli sindo


Ini salah satu group band SINDO Dadi (biar orang bicara, yang penting kita jadi)


double winner SFC Bandara SMB II Palembang

bUkAn mAiN

                                                                                     

Seusai menghadiri pesta pisah sambut asiknya nongkrong bersama. Semua dibicarakan, mulai dari politik, tempat nongkrong hingga lawan jenis yang tidak perna habis dibahas.

Disela semua itu tidak salahnya bermain kamera dan memaparkan diri, setidaknya untuk dokumentasi pribadi dan orang lain jika perlu hee2.

Ngomong2 ngobrol bareng memang menyenangkan dan tidak akan habisnya.  Walau terkadang tanpa sadar hingga tengah malam, tetapi ngobrol tetap dilanjutkan apalagi jika diselingi dengan humor yang bisa buat lupa segala masalah walau hanya sementara.

Bagi pihak yang hendak memberikan komentar dan saran, silahkan dan diterimah kasih atas sarannya. asalkan jangan minta uang!!!@@@@@  

Evaluasi Lumbung Energi

Berli zulkanedi

GUBERNUR SEGERA EVALUASI PROGRAM LUMBUNG

PALEMBANG  Karena dianggap belum berjalan maksimal dan realisasinya belum memuaskan. Gubernur Prov Sumsel mengisyaratkan segera mengevaluasi program lumbung pangan dan lumbung energi nasional

Gubernur Prov Sumsel Prof dr. Mahyuddin N.Spog.k mengatakan, pihaknya segera melakukan evaluasi terhadap kedua program tersebut. Evaluasi terutama dilakukan terhadap program lumbung engeri nasional yang dianggap perlu dilakukan evaluasi dan percepatan. “Sebelumnya perna saya sebutkan tiga munggu lagi kita evaluasi (program), dan sekarang berarti minggu depan,”ujarnya di Kampus Unsri Bukit Besar Palembang, kemarin. 

Mahyuddin menilai, program yang dicanangkan sejak tahun 2004 lalu perlu dilakukan eveluasi yang mendalam untuk melihat kendala dan pencapaian yang telah terealisai. Dalam melakukan evaluasi itu maka Gubernur akan memanggil instansi sektor terkait seperti Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov Sumsel, Unsri, Dewan riset daerah, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Prov Sumsel. “Semua instansi dan sektor terlibat dalam program lumbung ini, tetapi mereka instansi yang terlibat secara langsung,”terangnya.

Menurut Mahyuddin, evaluasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana program yang telah berjalan selama empat tahun itu. “Istilahnya evaluasi akhir jabatan,”urai Mahyuddin.

Karena program yang menuai pro dan kontra tersebut dinilai belum berjalan maksimal dan baru berjalan sekitar 25 hingga 30 persen. Memang lanjutnya, program secara nasional yang dicanangkan Presiden tersebut tidak mungkin dapat terealisasi 100 persen dalam waktu empat tahun. Namun, setidaknya diperlukan evaluasi untuk melihat dan menentukan langka percepatan kedepannya. “Program itu kira – kira baru 30 persen, tetapi terus berjalan. Target kita baru tercapai maksimal pada tahun 2015 mendatang, karena sektor pembanguna sektor eneergi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat,”terangnya.

Secara kasat mata, kata Mahyuddin, dalam percepatan lumbung energi masih banyak yang belum dikerjakan. Seperti pembangunan relway kereta angkutan batubara Tanjung Enim pelabuhan Tanjung Api – Api (TAA) serta pembangunan pelabuhan TAA itu sendiri. “Tetapi semuanya itu prosesnya terus berjalan,”kata Mahyuddin.

Lebih lanjut dijelaskan, langka yang bakal dilakukan dalam upaya percepatan dan perwujudan lumbung enegeri nasional tersebut yaitu penambahan powerplan dan atau pembangkut listri mulut tambang dan pembangunan Pembangkit Listrik tenaga uap lainnya. Hal tersebut dilakukan mengingat deposit batubara di Prov Sumsel sangat besar. “Bersamaan dengan itu juga terus dilakukan upaya perwujudan infrastruktur, seperti Pelabuhan TAA dan relwaynya. Karena dengan saat ini tambang Sumsel hanya dapat diangkut melalui Pelabuhan Lampung, dan angkutan sungai melalui sungai Musi, dan itu terbatas,”terangnya.
Kedepan, Pemprov Sumsel mengupayakan dapat menambah pintu keluar hasil tambang. Sehingga pada saatnya nanti produksi tambang batubara Sumsel diharapkan dapat mencapai 20 juta ton pertahun atau meningkat dari saat ini yang hanya 10 juta pertahun. 

Sebelumnya, Asisten ekonomi keuangan dan Pembangunan Sekda Prov Sumsel Budi Rahardjo mengatakan, sumsel belum maksimal soal energi karena sumsel belum tersedia pembangkit listrik mulut tambang yang dapat diekspor ke pulau jawa, terutama berkaitan soal kelistrikan. “Kita terbentur sarana, makanya direncanakan mulut tambang,”katanya.

Sementara itu, Direktur Riset Unggulan Teknologi Nasional (Rusnas) Faisal DEA mengatakan, potensi pengembangan enerdi di Sumsel sangat besar. Karena, dengan batubara banyak yang dapat dilakukan seperti pembangunan pembangkit mulut tambang, serta rencana pencairan batubara menjadi bahan bakar yang bernama CSO. 

“Hanya saja, semua rencana tersebut tidak dapat terwujud dalam waktu singkat, namun kita terus berupaya. Seperti dengan pengembangan pencairan batubara tersebut, batubara dengan kalori rendah dapat diubah menjadi bahan bakar minyak,”singkat Dosen Fakultas Kimia Unsri tersebut.
(berli zulkanedi)

 
   Foto Ini diambil dalam usia petama SINDO Sumsel pada juni 2008

Sekilas KILAS


Menjalani profesi sebagai jurnalistik merupakan kebanggaan tersendiri. Padahal pada awalnya, menjalani profesi ini sangat tidak menyenangkan. Namun, setelah dijalani dan terus belajar dari orang yang pantas untuk ditiru akhirnya profesi ini sangat menyenangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, menjalani profesi ini sangat melelahkan dan tidak akan menjadi orang kaya. Namun, bukan kekayaan yang dicari walaupun itu diharapkan. Namun, kepuasan batin dan kebebasan dalam bertindak merupakan kepuasan yang mungkin tidak diperoleh dengan menjalani profesi lain.

Tetapi, harus disadari juga bahwa hidup adalah pilihan yang berarti semua dari kita memiliki pilihan atau profesi yang dijalani. Dengan demikian, kebanggaan yang diperoleh dari menjalani suatu profesi belum tentu dipersefsikan sama oleh orang lain. Apalagi jika sudah diselipkan hasrat tertentu dari sebuah profesi. Tetapi yakinlah bahwa hidup itu adalah pilihan.***